Iman Tomas Vs Iman Abraham

28 Jul 2024 Spirit Blog Andrew Tanoko

Iman Tomas Vs Iman Abraham

Iman Tomas

Yohannes 20:27 “….jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah”

Yohannes 20:29 “….berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”

Pada waktu Yesus bertemu dengan Tomas, Tomas masih belum percaya akan kebangkitan-Nya. Yesus mau setiap murid-Nya percaya kepada-Nya. Menurut Yesus, murid-Nya tidak boleh tidak percaya – “Janganlah engkau tidak percaya lagi melainkan percayalah”. Kehendak Yesus bagi setiap murid-Nya adalah percaya.

Imannya Tomas adalah iman otak. Yesus tidak mau Tomas memiliki iman semacam ini. Yesus tidak pernah memuji iman semacam ini, ataupun Dia tidak mau murid-Nya percaya kepada-Nya dengan iman semacam ini.

Apa karakteristik imannya Tomas – lihat ayat 29 – “…karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya…” Tuhan tidak suka iman semacam ini. Dia tidak mau murid-Nya percaya kepada-Nya seperti ini, “Saya mau melihat dulu, baru percaya.” — Ini adalah iman otak.

Iman yang tergantung dari pemasukan panca indera. “Kalau saya menjamahnya, merasakannya, dan melihatnya, baru saya akan percaya”. Setiap orang, Kristen atau tidak bisa memiliki iman semacam ini atau iman otak. Tetapi murid Yesus harus memiliki satu jenis iman yang berbeda dari iman otak. Murid Yesus harus memiliki iman hati.

Dan disini Yesus menyukai dan memuji iman hati – lihat ayat 29 – “…berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya…” Iman hati atau percaya dengan hati atau roh kita itu berarti percaya terlepas dari apa yang dikatakan tubuh, perasaan atau panca indera kita.

Iman otak hanya mempercayai apa yang dia lihat dengan mata jasmaninya, sentuhan dengan tangannya, dan rasakan melalui panca inderanya. Tetapi Yesus mau setiap murid-Nya mempercayai-Nya, Firman-Nya, KuasaNya dengan hati dan rohnya, walaupun dia belum melihat dan merasakan-Nya.

Iman Abraham

Roma 4:17  “….dihadapan Allah yang kepadaNya ia percaya….”

Menurut Firman, Abraham percaya kepada Allahnya. Apa yang Abraham percayai? Dia percaya menurut yang telah difirmankan “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”. Dia percaya tidak menurut apa yang dia lihat ataupun percaya tidak menurut apa yang dikatakan perasaannya. Dia percaya tidak menurut apa yang dikatakan pikirannya. Dia percaya tidak menurut apa yang dikatakan panca inderanya. Dia percaya menurut yang telah difirmankan kepadanya.

Apakah kita percaya menurut apa yang Tuhan telah katakan kepada kita dalam Firman-Nya? Apa yang kita lihat mungkin belum berubah. Kita mungkin merasa dan berpikir bahwa doa dan iman kita sia-sia. Apa yang akan kita lakukan kalau keadaan tidak berubah meskipun kita sudah berdoa dan percaya? Kalau kita mengerti ayat ini, kita akan bisa berdiri kokoh di atas dasar Firman Allah dan tetap berdiri di atasnya sampai apa yang difirmankanNya kepada kita menjadi kenyataan.

Iman Abraham adalah iman yang konsisten. Imannya Abraham adalah iman yang berkomitmen. Iman yang berani berpegang kepada janji Tuhan, bukan hanya untuk satu hari, satu bulan, atau satu tahun, tetapi terus menerus sampai janji itu menjadi kenyataan.

Pada waktu Abram berusia 99 tahun, Tuhan berbicara kepadanya di Kejadian 17:5 “….karena engkau telah kutetapkan menjadi….”

Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan kepadanya “…engkau akan kutetapkan menjadi….”, melainkan Dia mengatakan “…engkau telah kutetapkan menjadi…” 

Pada waktu Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham disini, Abraham belum punya keturunan. Dan Allah tidak mengatakan kepada Abraham bahwa nanti, di kemudian hari dia akan menjadi bapa banyak bangsa. Dia mengatakan “Aku sudah membuat engkau hari ini bapa banyak bangsa…” kepada Abraham yang belum punya anak. Dan Abraham percaya akan hal ini.

Jadi apa yang Abraham percayai? Dia percaya bahwa karena kuasa Allah, dia yang tidak punya anak, sudah pada hari itu menjadi bapa banyak bangsa. Pada hari itu juga, Abraham melihat dirinya dengan cara yang berbeda. Dia tidak lagi melihat dirinya sebagai orang tua yang berusia 99 tahun dan tidak punya anak. Tidak.

Hari itu juga dia percaya bahwa Allah sudah menjadikannya bapa banyak bangsa. Inilah iman yang sejati. Iman selalu percaya bahwa mukjizat terjadi bukan nanti di kemudian hari, tetapi sekarang juga. Iman percaya bahwa kuasa Firman-Nya sudah menjadikan apa yang tidak ada menjadi ada. Iman menganggap apa yang tidak ada, sudah ada. Iman memanggil apa yang tidak ada,  seakan-akan sudah ada.

Secara kasat mata, mungkin kita belum melihat apa-apa. Tetapi dengan iman, kita mengeklaim bahwa Tuhan sudah bekerja, jalan keluar sudah disediakan, terobosan sudah terjadi, kesembuhan sudah diterima. Itulah imannya Abraham. Imannya Abraham adalah iman yang kuat.

Roma 4:20 “….diperkuat dalam imannya….”

Disini kita melihat kondisi imannya Abraham, yang memiliki iman yang kuat. Alkitab mengatakan kita sebagai anak-anak Abraham, kita harus mengikuti jejak iman Abraham (Roma 4:12). Kita harus menpercayai Allah sama seperti Abraham mempercayai Allah.

Ini bukan berarti Allah tidak mengasihi kita yang lemah imannya. Dia mengasihi kita semua, apapun kondisi iman kita dengan kasih yang sama. Tetapi iman yang kuat sudah tentu lebih menyenangkan Allah ketimbang iman yang lemah.

Ibrani 11:6 mengatakan bahwa tanpa iman, tidak mungkin kita menyenangkan Allah; sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, harus percaya. Orang percaya harus percaya kepada-Nya. Bagaimana kita harus percaya kepada-Nya? Sama seperti  bapa iman kita Abraham percaya kepada-Nya yaitu dengan iman yang kuat. Apa yang dimaksud dengan iman yang kuat?

Pertama, “…dengan penuh keyakinan….” – iman yang kuat adalah keyakinan yang penuh, bukan separuh-separuh, bukan mendua hati. Kata “penuh” di sini adalah kata yang penting, itu berarti hati Abraham secara menyeluruh dipenuhi dengan keyakinan. Dia tidak bimbang sama sekali. Dia tidak meletakan satu kaki imannya diatas keadaan dan satunya diatas janji Tuhan. Kedua kaki imannya hanya berdiri di atas satu landasan saja yaitu Firman Allah. Apa yang Abraham yakini dengan penuh, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang Ia telah janjikan. Tuhan bisa dan selalu bisa melakukan Firman-Nya sendiri. Apa yang Dia sudah katakan kepada kita, tidak pernah sulit untuk dilakukan oleh-Nya.

Kedua,  “…memuliakan Allah…” – iman yang kuat adalah iman yang memuliakan Allah sebelum janji-Nya digenapi. Allah harus dipermuliakan hari ini, kemarin dan selama-lamanya, apapun kondisi kehidupan kita, karena Dia layak. Iman yang kuat tidak perlu menunggu melihat hasil atau mukjizat sebelum memuji dan menyembah Tuhan. Iman yang kuat mengucapkan syukur meskipun janji yang diberikan belum menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Kalau kita memenuhi dua syarat tadi, kita sebenarnya memiliki iman yang kuat, iman yang berkenan dihadapan Allah.

 

Tentang Spirit Blog 
Spirit Blog adalah pelayanan tulisan Rev. Dr. Andrew Tanoko, yang mencakup berbagai topik kothbah, seminar manual, bahan pelatihan kepemimpinan dan penelitian akademis yang sebagian besar pernah dibagikan di berbagai gereja, sekolah Alkitab, dan konteks pelayanan lainnya di berbagai negara sejak tahun 1999.