Percaya Dengan Hatimu

09 Jul 2024 Spirit Blog Andrew Tanoko

Percaya Dengan Hatimu

Roma 10:9 “….percaya dalam hatimu……..”

Roma 10 : 10  “…dengan hati orang percaya…”

Dimanakah lokasi iman? Iman yang diajarkan dalam Alkitab adalah iman hati – dengan hati kita percaya. Kita percaya dari dalam kita yaitu dengan hati kita. “Percaya” selalu berhubungan dengan hati. Apa artinya “Percaya dengan hati”?

Apa yang dimaksud dengan kata “hati’ di sini? Hati di sini bukan berarti organ internal tubuh kita atau lever kita. Kita tidak bisa mempercayai Allah dengan lever kita sama seperti kita tidak bisa mempercayai Allah dengan jantung, paru-paru atau tangan, atau telinga kita. Kata “hati” tidak ada hubungannya dengan organ tubuh kita.

Kata “hati” disini berhubungan dengan bagian kita yang paling central, paling dalam, paling inti dan utama. Allah berbicara mengenai pusat keberadaan kita yaitu roh kita. Lihat 1 Tess 5:23  “….roh, jiwa dan tubuh…”

Manusia adalah mahluk roh, dia memiliki jiwa dan dia diam dalam tubuh jasmani. Dengan roh kita, kita berhubungan dengan Allah dan dunia rohani. Jiwa kita terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak kita. Dengan jiwa kita, kita berhubungan dengan dunia intelektual, emosi dan keinginan. Dengan tubuh kita, kita berhubungan dengan dunia fisik yang ada di sekitar kita. Kita melihat dengan mata kita, mendengar dengan telinga kita, menyentuh dengan tangan kita, kita merasa dengan lidah kita, dan kita mencium suatu aroma dengan hidung kita.

Orang yang percaya adalah orang yang percaya dengan rohnya. Lihar 1 Petrus 3:4 “…..manusia batiniah yang tersembunyi…”

Ada dua macam manusia menurut Alkitab – manusia lahiriah dan manusia batiniah. Manusia lahiriah adalah tubuh jasmani kita, bagian dari kita yang terdiri dari darah dan daging. Sesuatu yang konkret dan bisa dilihat, dijamah oleh kita. Manusia batiniah adalah bagian dari kita yang tersembunyi dalam manusia lahiriah kita, tidak terlihat oleh kita dan sering kali kita menganggap bagian ini abstrak.

Manusia batiniah ini adalah roh kita, yang tersembunyi dari pancaindera kita. Kita tidak bisa melihatnya dengan mata kita atau menjamahnya dengan tangan kita, namun manusia batiniah ini sangat nyata. Dialah pusat keberadaan kita. Kalau manusia batiniah ini meninggalkan tubuh kita, maka tubuh kita akan mati. Dengan manusia batiniah inilah kita mempercayai Allah. Ada perbedaan antara iman hati dan iman otak.

Lawan dari iman hati adalah iman otak. Banyak diantara kita yang percaya bukan dengan hati kita, roh kita tetapi dengan otak kita. Iman yang sejati adalah iman yang mempercayai Allah dengan hatinya bukan otaknya. Sering kali apa yang ada dalam hati kita berlawanan dengan apa yang ada dalam pikiran kita. Pikiran kita mungkin penuh dengan pertanyaan dan kebimbangan mengenai Allah dan janji-Nya, tetapi yang penting adalah hati kita, roh kita tetap percaya, memegang janji-Nya.

Amsal 3:5 ” ….percayalah… dengan segenap hatimu….jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri…”

Pengertian kita sendiri berhubungan dengan proses pemikiran kita, logika kita, pertimbangan yang terjadi dalam pikiran kita. Allah telah memberikan kepada kita otak untuk berpikir, menganalisa situasi. Dia mau pikiran kita diperbahuri dengan FirmanNya supaya kita bisa berpikir sesuai dengan kehendakNya. Pikiran kita yang manusiawi sering memberontak terhadap Firman Allah. Misalnya, pada waktu kita sakit dan kita mendengarkan janji-Nya mengenai kesembuhan, kita langsung berpikir “apakah kemungkinannya saya bisa sembuh dari penyakit ini?”

Dokter mengatakan demikian mengenai ini dan Tuhan mengatakan “Oleh bilur-bilur-Nya aku telah sembuh?”  Atau ketika kita mengalami kekurangan dan kita mendengarkan janji-Nya mengenai kemakmuran, kita cepat berpikir “apakah kondisi ekonomi saya akan berubah?” Kenyataannya saya sudah berusaha dan selalu gagal, tetapi Tuhan mengatakan “Segala keperluanmu akan aku penuhi”.

Pada saat itulah kita perlu, menundukan pikiran kita kepada Firman-Nya. Pada saat itulah kita harus percaya kepada-Nya dengan segenap hati kita dan tidak bersandar kepada pengertiaan kita sendiri. Meskipun pikiran kita mungkin mengatakan “Tidak Bisa”, “Sulit”, “Kapan”, “Bagaimana”, “Mengapa”, hati kita, roh kita, manusia batianian kita bisa tetap percaya kepada Tuhan. Mukjizat terjadi pada waktu kita berkomitmen untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati kita meskipun pikiran kita mengatakan “Tidak Mungkin”.

Apakah kita bisa mengatakan kepada Tuhan, “Dengan segenap hatiku aku percaya aku telah sembuh”; “Dengan segenap hatiku aku percaya aku menerima kemakmuran”; “Dengan segenap hatiku aku percaya situasi akan berubah?”

Perubahan mulai terjadi pada waktu orang percaya dengan segenap hatinya percaya bahwa Tuhan mau dan sanggup untuk mentransformasi kehidupannya.

 

Tentang Spirit Blog 
Spirit Blog adalah pelayanan tulisan Rev. Dr. Andrew Tanoko, yang mencakup berbagai topik kothbah, seminar manual, bahan pelatihan kepemimpinan dan penelitian akademis yang sebagian besar pernah dibagikan di berbagai gereja, sekolah Alkitab, dan konteks pelayanan lainnya di berbagai negara sejak tahun 1999.